Kamis, 14 Februari 2013

Esai Novel Belenggu


Belenggu Perempuan Dalam Kehidupan Pramoderen

Munculnya Liberialisme salah satu pengertian yang menganggap bahwa aliran tesebut menuntut adanya jaminan hak setiap warga negara  terhadap milik pribadi bahwa apa saja yang ada di dalam kehidupan manusia mempunyai hak maupun itu laki-laki dan perempuan . Bukan hanya suami yang mempunyai hak lebih daripada seorang istri yang mestinya turut serta , seorang istri juga mempunyai hak yang sama . Adanya tuntutan didalam zaman modern ini yaitu muncul adanya feminisme yang mengajarkan adanya patriatisme terhadap perempuan . Banyak para ahli yang beranggapan pada institusi perkawinan pada zaman pramoderen sesungguhnya keutamaan perkawinan bukan karena atas dasar cinta dan kasih sayang , melainkan pada ekonomi dan intelektual yang dimiliki seseorang . Berbeda atas perkawinan paksa atau dijodohkan dengan orang tua karena dalam periode dan zaman pramoderen yang berpikir masih kolot dan belum dipengaruhi oleh bangsa lainnya .
Pada periode pra kemerdekaan bangsa Indonesia banyak pengarang karya sastra yang mengambil tema kawin paksa  . Adanya pertentangan golongan muda dan golongan tua ,dimana golongan tua yang masih mempertahankan adat sedangkan golongan muda yang tidak selamanya adat itu benar dan membawa kebaikan tetapi cenderung memperlambat kemajuan zaman . Tetapi jarak satu langkah periode pra kemerdekaan , para pengarang mulai menulis karya sastra yang mengangkat tema lebih beragam misalnya dengan mengangkat tema persoalan wanita atau emansipasi wanita . Bentuk dari karya sastra lebih luas dan sudah tidak terikat dalam periode yang mengangkat tema kawin paksa dan pengarangnya sudah bebas mengeluarkan ide dan gagasan dalam penyampaian karya sastra .
Dalam perkembangan teori sastra mengikuti kecenderungan dalam paradigma politis dan sosiologis . Misalnya di dalam roman yang saya baca dan mencoba untuk saya telaah dalam stilistika kesusastraan Indonesia . “Belenggu” salah satu roman yang menggunakan teori feminisme ,pengarang karya sastra roman ini adalah Armyn Pane . Dimana Armyn  Pane mengungkapkan gagasannya di dalam menciptakan seni ,ia tidak semata-mata mengabdi pada keindahan tetapi keindahan itu sendiri harus bermanfaat bagi masyarakat . Selaras dengan pernyaatannya dalam paham seni ia lebih mengutamakan isi daripada bentuk . makna dari paham seni disebut juga dengan asas seni . Dimana paham ini adalah aturan-aturan untuk menciptakan seni , yang terkenal dengan sebutan seni bertenden dan seni untuk seni . Armyn Pane menciptakan roman “Belenggu” bahasa yang diciptakan terkadang masih membingungkan pembaca mungkin ada pergeseran bahasa Melayu ke bahasa Indonesia . Yang menarik dalam roman ini adalah suasana yang diciptakan romantikus dimana pembaca dibawa oleh suasana pengembara dalam jiwa dan tanpa menggunakan logika kejadian .
Tono seorang dokter yang menikahi seorang wanita cantik  dan berintelektual bernama Tini . Alasan mereka menikah bukan karena cinta melainkan ketertarikan dari profesi dan intelektual , seperti yang saya sebutkan diatas . Dimana mereka tidak saling mencintai , dan jarang bertukar pendapat setiap ada masalah , akhirnya Tono memutuskan untuk menyimpang dari rumah tangganya yaitu bercumbu dengan Yah dimana Tono  lebih nyaman dengannya . Dalam roman “Belenggu”  pengarang mengungkapkan bagaimana keadaan feminis dengan masalah perkembangan zaman , dimana belenggu seorang wanita yang dihadapkan pada masalah dimana ia harus memperjuangkan hak-nya sebagai seorang istri . Banyak para sastrawan yang berpendapat bahwa Armyn Pane adalah seorang yang romantis dalam penyampaian karyanya . Dibawah  ini merupakan pendapat dari seorang sastrawan yang mengapresiasi karya dari Armyn Pane , dengan adanya roman “Belenggu” :
“Kaum kolot tentu akan gempar cemeti realisme yang dilecut-lecut dengan sangat beraninya oleh pengarang-kaum muda,kaum baru ,tentu akan bersorak membacanya ,oleh keinsafan keberanian pengarang memancarkan cahaya pada hal-hal yang tak patut dan tak layak …Memang ,pena saudara Armyn  Pane disini terang amat “tidak kenal kasihan” terhadap hal-hal yang buruk ,dan oleh karena itu nyatalah ,bahwa  pena saudara itu pena Pudjangga sejati ,yang hendak berjuang  yang hendak menghindarkan hal- hal buruk untuk membangunkan semangat baik dan jernih dalam sanubari masyarakat Indonesia ..Cara menggambarkan watak seseorang saya anggap cukup dan cara membawakan perkataan dan menyajikan isinya     ,intelligent ,karena menganggap pembaca intelligent juga ,dan memaksa pembacanya berpikir dalam-dalam. Belenggu ini keuntungan mahabesar untuk literature kita ,untuk pembangunan semangat baru Indonesia.”(M.R. Djaroh,”Pudjangga Baru”.Des.1940)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar